Makro Ekonomi

Selat Hormuz Bersilat

Oleh Admin 09 April 2026 • 9x dibaca
Pasar minyak global mengalami gejolak besar setelah gangguan serius di Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Ketegangan meningkat sejak serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, yang memicu gangguan distribusi energi dan menciptakan ketidakpastian di pasar. Dampaknya, terjadi salah satu disrupsi terbesar dalam sejarah pasar minyak modern.

Harga minyak sempat anjlok tajam, bahkan mencatat penurunan harian terbesar sejak April 2020, sebelum akhirnya kembali rebound. Harga Brent melonjak di atas $97 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati $98. Namun, pemulihan ini masih dibayangi kekhawatiran, karena lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz belum sepenuhnya normal. Meskipun ada klaim bahwa jalur tersebut mulai dibuka kembali, banyak pelaku pasar tetap skeptis terhadap kecepatan pemulihan pasokan.

Di sisi lain, situasi geopolitik di Timur Tengah masih memanas, dengan konflik sporadis yang terus berlangsung, termasuk aksi militer Israel di Lebanon dan serangan Iran di kawasan Teluk. Perbedaan pandangan terkait cakupan gencatan senjata semakin memperumit situasi. Para analis menilai bahwa harga minyak tidak akan turun signifikan dalam waktu dekat kecuali ada kepastian bahwa jalur distribusi energi benar-benar aman dan bebas hambatan.